September 9, 2026

Prof. Sutan Nasomal: Waspadai Hegemoni Digital, Alat Perang Terselubung untuk Melemahkan Bangsa Bertuhan

JAKARTA .iwoipemalang.id

— Kemajuan teknologi dan arus digitalisasi global merupakan keniscayaan zaman yang membawa dampak ganda bagi peradaban. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkannya, penetrasi teknologi digital tanpa filter dinilai menyimpan agenda terselubung yang mengancam kedaulatan bangsa serta nilai-nilai spiritual masyarakat.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Pakar Hukum Internasional dan Pengamat Ekonomi, Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., saat menanggapi pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan daring nasional maupun internasional, di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (26/8/2026).

Ancaman Peperangan Generasi Baru

Menurut Prof. Sutan Nasomal, konsep digitalisasi secara sains lahir untuk memudahkan penyimpanan mahadata (big data), mempercepat akses informasi, serta mendukung sektor krusial seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pertahanan. Namun, ia mengingatkan adanya bahaya asymmetric warfare (perang asimetris) yang digerakkan oleh jejaring elite global.

“Kelompok elite global ini membangun instrumen untuk mengontrol titik lemah suatu negara tanpa harus mengerahkan kekuatan militer konvensional. Penguasaan terhadap sistem perbankan, arus informasi digital, hingga suplai industri strategis dijadikan instrumen dominasi global,” ujar Prof. Sutan.

Ia menambahkan, ketergantungan penuh terhadap platform digital luar negeri berpotensi membuka data kependudukan, melemahkan stabilitas ekonomi nasional, hingga mendegradasi tatanan moral dan budaya bangsa melalui konten destruktif yang tidak terfilter di ruang publik media sosial.

Dari Kemudahan Menuju “Ketergantungan Absolut”

Prof. Sutan menyoroti fenomena maraknya pemanfaatan teknologi cerdas dan Artificial Intelligence (AI) di tengah masyarakat. Keberadaan gawai pintar di setiap rumah tangga kini secara perlahan menggeser pola interaksi sosial, tradisi keagamaan, serta rujukan moral masyarakat.

Erosi Rujukan Moral: Ketergantungan berlebih terhadap sistem algoritma dan kecerdasan buatan berisiko menggeser peran petunjuk kitab suci, nasihat ulama, dan nilai ketimuran.

Ketiadaan Batasan Etika: Mesin digital dan algoritma beroperasi tanpa mengenal konsep halal-haram atau nilai ketuhanan, sehingga dapat melahirkan degradasi spiritual jika diterima mentah-mentah.

Pergeseran Peran Manusia: Otomasi digital mulai menggantikan berbagai peran profesional tanpa disertai pembinaan integritas dan nurani.

Menjaga Qolbu dan Kedaulatan Moral

Menutup keterangannya, Prof. Sutan Nasomal mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, untuk melek teknologi secara cerdas tanpa mengorbankan integritas iman dan hati nurani (qolbu). Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad itu; dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah qolbu (hati).”

“Kecanggihan teknologi digital harus ditempatkan sebagai alat, bukan tuan. Jangan sampai digitalisasi mematikan kepekaan qolbu, melunturkan ketakwaan, serta meruntuhkan fondasi bangsa yang berketuhanan,” pungkasnya.

Profil Narasumber:

Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H. (Pakar Hukum Internasional & Pengamat Ekonomi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *