Agustus 13, 2026

Sekda Bagus Sutopo: Pangruwat Alam Kelangdepok Adalah Kearifan Lokal yang Harus Dijaga Generasi Muda

PEMALANG,iwoipemalang.id

– Tradisi budaya Pangruwat Alam kembali digelar oleh Yayasan Sabda Manunggal di Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di kawasan Kali Comal tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan terhadap alam dan warisan budaya leluhur.

Acara tahunan ini dihadiri ratusan warga, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, serta jajaran Forkopimcam Bodeh. Hadir mewakili Bupati Pemalang Anom Widyantoro, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pemalang, Bagus Sutopo, yang sekaligus menyampaikan pesan dan apresiasi dari Bupati kepada masyarakat Kelangdepok.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab tumpeng hasil bumi yang diarak menuju lokasi acara, dilanjutkan prosesi larung sesaji di Sungai Comal sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kemakmuran, serta dijauhkan dari berbagai bencana. Suasana semakin semarak dengan pagelaran seni budaya wayang kulit yang menjadi hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya Jawa.

Dalam sambutannya, Sekda Bagus Sutopo menyampaikan salam dari Bupati Pemalang Anom Widyantoro yang berhalangan hadir. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pemalang memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi Pangruwat Alam sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

“Bupati Anom Widyantoro menitipkan salam untuk seluruh masyarakat Kelangdepok. Beliau sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan Pangruwat Alam karena merupakan kearifan lokal yang memperkuat identitas desa, sejalan dengan semangat Pemalang yang guyub dan rukun. Tradisi ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai sarana pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” ujar Bagus Sutopo.

Bagus juga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan bagian dari keluarga besar Yayasan Sabda Manunggal. Menurutnya, filosofi yang diajarkan yayasan tersebut menanamkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta kepedulian sosial yang dimulai dari hal-hal sederhana.

“Semua ajaran yang disampaikan di Yayasan Sabda Manunggal berawal dari sesuatu yang kecil. Setiap anggota diajarkan untuk membiasakan diri menyisihkan seribu rupiah setiap hari atau yang dikenal dengan istilah bisaroh. Nilainya memang kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama akan menjadi kekuatan besar untuk membantu berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebiasaan menyisihkan rezeki setiap hari bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga memiliki makna spiritual sebagai upaya menyucikan harta yang diperoleh.

“Itulah bagian dari pensucian lahir dan batin. Rezeki yang kita peroleh hendaknya disisihkan untuk kemaslahatan bersama. Dari kebiasaan sederhana itu, Yayasan Sabda Manunggal dapat menjalankan berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan budaya yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas,” tambahnya.

Melalui kegiatan Pangruwat Alam, masyarakat Desa Kelangdepok berharap tradisi warisan leluhur tetap lestari, menjadi perekat persaudaraan antarwarga, sekaligus mampu memperkuat nilai-nilai gotong royong, pelestarian lingkungan, dan budaya di Kabupaten Pemalang.

(Sahuri)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *